SELAMAT DATANG--WELCOME--welkom--歓迎さ--환영--добро пожаловать--karşılama-ยินดีต้อนรับ--maligayang pagdating-bienvenida--accueil--willkommen--benvenuto

Monday, 6 February 2017

I Believe In You (PART 2)

Tidak sukses dengan SMP 1, semua pelajaranku berantakan, pertemananku biasa-biasa saja, paling hanya satu dua teman akrab di kelas. Menginjak kelas SMP 2, diriku masih tidak jauh dari masalah, hari pertama masuk kelas saja, teman depan dan belakangku bertengkar. Dua lelaki hina yang entah sebab apa, beradu mulut tidak karuan. Tiba-tiba yang di belakang entah siapa namanya pada saat itu mencengkram baju yang di depan, tak berapa lama mereka saling meninju. Entah bodoh atau apa, saat itu tubuhku bergerak sendiri, seperti ada yang mendorong dan tak sadar diriku sudah di tengah-tengah mereka. Semua diam membisu, menatap diriku, lalu aku cuma bisa bergumam hei berhenti, jangan berantem lagi. Mereka pura-pura tidak mendengar, tanpa menghiraukan diriku  mereka lanjut adu tinju hingga salah satu kepalan mereka menonjok ke pahaku. Orang bodoh juga tahu rasanya apa, saking sakitnya aku sampai terluntang layu berlutut mencari tempat duduk. Tidak lama guru wali kami datang melerai mereka. Tololnya luar biasa kejadian ini. 

Kisah aneh tapi nyata, diriku malah terlibat pertengkaran mereka. Tiba-tiba disuruh ikut maju menghadap ke guru wali. Pertanyaan pertama, kenapa berkelahi. Pertanyaan kedua, ini hari pertama kenapa berbuat onar. Diriku hanya menjawab tidak tahu, aku hanya korban Sir. Iya, panggilannya Sir, karna guru waliku itu mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Oke, masalah selesai, mereka saling minta maaf dan ketika balik ke kelas, wajah anak-anak sudah melabel diriku, perempuan nakal, hahaha luar biasa sekali kemampuan label itu...........

Beberapa hari berlalu, tak banyak yang ingin berteman denganku, pada akhirnya malah akrab dengan lelaki depan dan belakang bangkuku. Ternyata mereka pembuat onar kelas, juara sekali, berisik, yang satu pernah tidak naik kelas, yang satu giginya hilang karena jatuh nakal berbuat onar. Terimakasih Tuhan, lingkungan apa ini. I don't fit on this place! Geram sekali.

Karena sudah biasa, akhirnya kami selalu ngobrol bertiga, entah kenapa jadi akrab dan bahkan tau latar belakang keluarga masing-masing. Laki-laki yang di belakang ternyata asalnya jauh dari kota, tinggal sendirian di kosan. Sehari-hari naik angkot ke sekolah, masak sendiri, menyuci sendiri, hidupnya mandiri, suka main game online, nonton anime dan main futsal. Yang depan anak yang cukup kaya, orang tuanya saudagar terkenal di kota, wajahnya modal tampang belagu, tapi sangat pintar matematika, dia pernah ikut olimpiade juga saat SD, punya kecepatan dalam menghitung super, bedanya dia bukan anak manis, pembuat onar kelas kakap, suka loncat sana-sini dan hobi main bulu tangkis. Larinya cepat, seperti kancil, dia pelari tercepat di kelas bahkan tiga besar angkatan. 

Tidak sampai di sana, pertemanan kami sampai ke daerah privat. Ternyata oh ternyata suatu ketika si lelaki belagu jatuh cinta kepada seorang perempuan yang duduk di samping kananku di kelas. Anaknya pemalu, senyumnya manis, cukup pintar dan punya tahi lalat menawan di dekat bibir. Lantas sebagai teman, kami bantu dia untuk dekat dengan si perempuan. 

(to be continued............)   

  

Tuesday, 31 January 2017

I Believe In You (PART 1)

Sungguh pun seburuk apapun hidupmu, pasti setidaknya satu kali Tuhan pasti pernah menghampirimu secara langsung. Entah menolongmu, memberikanmu kekuatan, memberikanmu petunjuk atau bahkan melindungimu dari bahaya dan petaka. Hanya saja ia tidak terlihat bahkan ia bisa saja berwujud orang lain yang tidak kamu kenal. 

Sungguh pun dunia tidak adil bagi keberadaanmu, pasti setidaknya Tuhan sudah memberikan rencana yang terbaik bagimu. Rencana itu tidak akan membuatmu bersedih sepanjang waktu, rencana itu adalah hal terindah bahkan mungkin wujud itu adalah sebuah kematian bagimu.

Sungguh pun kamu menganggap tidak ada yang mendengar suaramu, ketika kamu kehilangan pilihan dan merasa tak terlihat oleh siapapun, percayalah ketika kamu memohon dengan sangat begitu dengan frustasinya benak akal sehatmu, hingga ujung titik nadirmu bahkan mengeras bagai dingin menembus tulang, di sana Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya tak berdaya, Tuhan akan hadir untukmu.

Tulisan di atas adalah tiga hal yang sangat kupercaya, apa yang aku percaya? Aku percaya akan keberadaan Tuhan. 22 tahun diriku menginjak di bumi, begitu indahnya hidupku hingga kini dan kuharap begitu pula nanti. Sampai terkadang diriku bangun setengah sadar, masih tidak percaya kenapa sosok tubuh ini masih hidup dalam kesempurnaan. 

Pengalaman hidupku mungkin tak seluas orang-orang tua perjuangan kemerdekaan, tak seluar orang-orang terkaya di dunia juga, tapi entah kenapa aku bisa merasakan Tuhan sedang tertawa, tidak sabar menunggu bagaimana aku bisa menghadapi masa depanku yang luar biasa. Ya, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang istimewa bagiku!

Siapa bilang hidupku tak pernah gagal? Orang-orang suka sekali bilang begitu. Kamu beruntung sekali bisa menang ini, kamu beruntung sekali bisa lulus duluan, kamu beruntung sekali bisa bertemu orang itu, kamu beruntung sekali orang tuamu baik, kamu kamu kamu........ Ia, itu aku. Begitu lincah lidah orang-orang bersilat, terkadang terasa iri, terasa getir tapi semoga menginspirasi orang-orang. Asam garam sudah kulalui. 8 tahun lalu, sosok mungil diriku bukan apa-apa. Anak SMP tomboy, gendut, kasar, penindas, sok pintar dan sombong. Tidak ada yang tahan lihat sosok itu, sekali jalan siapapun pasti kesal. Tiga tahun begelut menguji kepintaran, lomba apapun aku hantam, hasilnya sudah pasti gagal, bahkan sudah sampai titik guruku jika mendengar aku ikut, dia pilih mundur mencari anak didik lain. Miris bukan? Mana ada yang mau dengan diriku yang aneh ini...... Dulu aku berpikir begitu. Hingga suatu saat aku menangis di kamar, kesakitan karena tidak pernah berhasil dalam apapun. Rasanya jika berteriak bisa tsunami, kesal, sedih, pilu, tertindas, rasanya sakit sekali kenapa bisa begitu. Aku tidak pernah berhasil dalam apapun, tidak ada yang menginginkan aku. 

Amarahku semakin membara, hingga di satu titik diriku menyalahkan Tuhan. Hey Tuhan, kenapa kau ciptakan diriku yang hina ini? Kenapa aku tidak mati saja, tidak berguna. Kerjaku hanya menghabiskan beras di rumah, tidur-tiduran main game menghabiskan listrik keluarga. Belajarku tidak sukses,bahkan PR pertamaku 0 angkanya, itu halaman pertama di bukuku, bahkan besar sekali 0 nya sampai-sampai semua orang tau ketika membagikan buku di depan kelas. 

Tidak hanya itu, diriku ditunjuk menjadi sekretaris kelas. Baru seminggu aku sudah dipecat, karena lupa bawa absensi kelas dan tidak pernah akrab dengan teman-teman kelas. Haduh, orang macam apa diriku ini, sangat tidak bisa diandalkan, diberi tanggung jawab ibarat menimba air, airnya kutumpahkan semua tanpa sebab. Rasanya kacau sekali menjalani hidup ini. 

(to be continued............)