Apa Kritik Itu Menggambarkan Aku yang Baik?

Siapa yang tidak tahu kritik? Hampir semua orang pernah merasakan dikritik begitu juga dengan saya. Kritik biasa kita lakukan ketika kita merasa ada sesuatu yang salah atau tidak benar pada seseorang terutama penampilan dan pernyataan. Tetapi, tidakkah kritik itu telah menyakiti hati Anda? Pepatah pernah mengatakan bahwa "Mulutmu harimaumu". Kata2 itu tidak berarti Anda bisa makan dan menerkam orang seperti harimau, namun dengan mulut beserta racun hatilah Anda menyakiti, menciutkan dan mengecilkan semangat orang lain. Dunia kritik sekarang sudah tidak kritis, tidak pandang bulu dan tidak melihat apa yang akan terjadi pada akhirnya. Bukan berarti Anda tidak boleh mengkritik, tetapi Anda harus mampu membedakan antara kritik yang "membangun" dan kritik yang "tidak membangun". Kesadaran inilah yang membuat saya keluar dari dunia perdebatan, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, mereka yang di sudut sana terus menyerang setiap kata orang yang tidak bisa menjawab dan akhirnya dikatakan kalah karena kehabisan kata. Saya mencoba menelusuri apa yang mereka rasakan, mereka merasa kalah, semua telah berakhir karena dikalahkan oleh pernyataan yang penuh dengan ego level 100!
 
Pada saat Anda mengkritik, Anda merasa menjadi orang yang paling S-E-M-P-U-R-N-A dan paling B-E-N-A-R. Anda sangat egois dan menampakkan emosi Anda, kesenangan sesaat Anda dan terus menyerang melukai orang dengan kata-kata Anda. Anda tidak akan pernah menyesal karena Anda anggap itu biasa, tetapi Anda harus tahu, Anda manusia yang mencerminkan tak punya jati diri. Anda tidak bisa menilai diri Anda sendiri sebab Anda menguasai segala emosi dalam diri Anda. Anda adalah seorang manusia yang sedang berkaca di depan kaca pecah dan berkaca di atas es beku yang retak.
 
Tatkala Anda mengkritik orang hingga menyinggung hati orang lain, bahkan dendam dan permusushan. Hal tersebutlah yang mengatakan bahwa Anda egois dari sisi manapun, dan bisa dilihat orang-orang yang terjun ke dunia perdebatan sulit mendapat kepercayaan, mudah putus asa, berlebihan, over power, kasar, emosional, diam-diam menghanyutkan dan mudah terlarut dalam kesedihan. Anda tak pernah meletakkan kepercayaan Anda pada siapapun walau mulut Anda berkata "Sobat, aku percaya padamu".
 
Sobat, kritik banyak memutar balikkan fakta, dengan kritik siapa saja bisa jatuh dan memaksa dirinya untuk membuang hati nuraninya, naik dengan kebanggaan bodoh dan menang karena ego. Dalam berkritik seharusnya Anda tidak hanya memanfaatkan fiisik (nada bicara) dan logika (analisa pada otak) tetapi juga hati nurani. Anda dituntut untuk berdiri dan merasakan apa yang dia rasakan. Contohnya saja, saya menghadiri sebuah perdebatan dengan topik uang dan kekasih. Seorang perempuan menerima bagian kontra di mana ia menegaskan bahwa ia memilih uang. Ia bersih tegas dan tetap pada pendiriannya, uang adalah segalanya. Ia tak peduli, uang bisa membeli cinta, uang bisa membeli harta dan dengan uang Anda bisa punya keluarga. Ya, dalam posisi dunia yang kian kejam ini semua itu tidak salah. Siapa yang berani menolakmu ketika kamu punya uang 100 triliun? Siapa yang tidak mau menjual rumahnya dengan tawaran 10x lipat dari harga semula? Siapa yang tidak mau menjadi orangtua angkatmu kalau kamu bisa memberi mereka uang 100 juta per minggu? Semua itu hampir tidak mungkin tidak terjadi, bahkan saya yakin keberhasilan dari uang adalah 1: 1.000.000! Tetapi, ketika Anda membuka hati Anda yang paling dalam, Anda adalah orang yang paling kesepian.. Sangat-sangat kesepian. Anda rasakan ketika Anda punya uang tetapi kasih sayang yang Anda terima hanya tipuan. Anda tidak akan pernah bahagia, sedangkan di pinggir sana seorang anak dengan keluarga sederhana mengalir kasih seperti derasnya sungai. Ia tidak kesepian walau lauk hanya aking nasi dan sayur mayur seadanya. Tetapi senyum bahagia selalu ada di hatinya.
 
Kembali ke kritik. Yah, kritik yang baik adalah membangun teman-teman kita. Ketika kita melihat kesalahan orang lain, sepantasnya kita mengoreksi dengan sopan, "Maaf saudara, saya melihat ada kesalahan yaitu...". Atau dengan pujian Anda mulai mengkritik, "Menurut saya statement Anda sudah sangat baik, saya takjub. Tetapi hanya ada 1 hal yang kurang yaitu....". Dengan kata-kata demikian, orang-orang yang analisanya kurang ataupun memang memiliki kekurangan bisa tahu dan mengerti di mana letak kesalahannya. Dengan penuh semangat ia akan mengingat pujian Anda dan bangkit untuk lebih baik dan justru tidak merasa tertekan oleh kata-kata Anda dan berusaha mencari jalan lain mematahkan kata-kata Anda.

Comments

Popular posts from this blog

Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli