Saturday, 21 April 2012

SISTEM PENGETAHUAN SUKU ASMAT

Pengetahuan Tentang Lingkungan
Lingkungan Alam Sekitar
Suku Asmat mendiami daerah dataran rendah yang berawa-rawa dan berlumpur serta dikelilingi hutan tropis. Daerahnya landai dan dikelilingi ratusan anak sungai. Curah hujan turun sebanyak 200 hari setiap tahun. Suhu minimal 21C dan maksimal 32C. Perbedaan pasang dan surut mencapai 4-5 m. Dengan pengetahuan inilah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Asmat untuk berlayar. Dengan demikian, apabila air surut, orang Asmat berperahu ke arah hilir dan kembali ke hulu ketika pasang naik.

Flora dan Fauna
Pemanfaatan flora dan fauna di daerah lingkungan orang Asmat dapat ditemui seperti sagu. Sagu merupakan makanan pokok orang Asmat. Sagu diibaratkan wanita karena kehidupan keluar dari pohon sagu sebagaimana kehidupan yang keluar dari Rahim ibu. Kayu kuning sangat berharga bagi orang Asmat sebagai bahan utama ukiran, pahatan dan kapal. Rotan sebagai bahan utama pembuatan keranjang sedangkan labu yang dikeringkan dimanfaatkan sebagai botol air.

Hasil pangan berupa cocok tanam suku Asmat meliputi wortel, jeruk, jagung, matoa dan peternakan meliputi ayam dan babi. Masyarakat suku Asmat juga mengkonsumsi ulat sagu, tikus hutan, kuskus, iguana, ikan dan kepiting rawa.  Cangkang kerang dan gigi anjing dimanfaatkan sebagai perhiasan.

Zat-zat
Suku Asmat mengenal 3 warna dalam kehidupannya, yaitu merah, putih dan hitam. Warna merah didapatkan dari larutan tanah merah dan air. Warna putih didapatkan dari campuran kerang tumbuk dan air. Warna hitam didapatkan dari campuran arang dan air.

Suku Asmat sangat bergantung pada air hujan untuk minum karena air di sekitar rawa-rawa dan sungai sangat payau. Orang Asmat juga memperoleh air minum ketika air sungai sangat surut sehingga tidak terlalu payau.

Hasil bahan mentah meliputi:
Kayu gaharu, rotan, kemiri, damar, kemenyan, kulit masohi, kulit lawang, cucut, udang, teripang, cumi-cumi, ikan, nipah, kerang, keong laut, kayu kuning, sagu, labu, ilalang, dsb.

Benda lingkungan:
Kapak batu dan ukiran pahatan kayu.


Sifat dan Tingkah Laku
 Bentuk tubuh orang Asmat sangatlah berbeda dengan penduduk lainnya. Kaum laki-laki memiliki tinggi badan antara 1,67 hingga 1,72m. Sedangkan kaum perempuan antara 1,60 hingga 1,65m. Bentuk kepala lonjong (dolichocephalic), bibir tipis, hidung mancung, kulit hitam gelap, kelopak mata bulat dan rambut hitam. Otot-otot tangan dan dada tegap serta kuat karena sering mendayung. Tubuh kaum perempuan biasanya lebih kurus karena proporsional pekerjaan yang lebih banyak.

Suku Asmat memiliki pola perilaku yang turun temurun yaitu kanibalisme. Masyarakat suku Asmat akan membunuh musuhnya dalam peperangan. Mayat musuh akan dibawa pulang ke kampong, diarak-arak sambil menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. Tubuh musuh dipotong-potong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Otaknya dibungkus sagu, dipanggang dan dimakan.

Masyarakat suku Asmat biasanya memotong satu ruas jari apabila ada salah satu keluarga yang meninggal. Bagi suku Asmat kematian disebabkan oleh roh jahat dan ilmu hitam. Maka dari itu, apabila ada yang meninggal, orang Asmat akan menutup segala lubang dan jalan masuk dengan tujuan menghalangi roh jahat.

Penukaran istri dengan perempuan yang disenangi terjadi dalam upacara khusus. Laki-laki bebas bersitubuh dengan perempuan pilihannya selesai upacara. Kegiatan ini biasa terjadi setelah peperangan. Laki-laki juga boleh menukar istrinya dengan orang lain yang disenangi.

Masyarakat suku Asmat cenderung saling mengatasi kesulitan kehidupan bersama. Suku Asmat biasanya saling barter untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan. Tidak hanya itu, mereka juga biasanya melakukan barter dengan masyarakat daratan tinggi untuk mendapatkan alat-alat seperti kapak dan batu.
Suku Asmat cenderung tertutup terhadap dunia luar terutama kaum perempuan. Walaupun kaum laki-laki sering berkelana, suku ini cukup menjaga kemurnian suku.


Ruang dan Waktu
Untuk memperoleh makanan di hutan, orang Asmat biasanya berangkat pada hari Senin dan kembali ke kampung pada hari Sabtu. Selama di hutan, mereka tinggal di rumah sementara yang bernama bivak.
Masyarakat Asmat mengenal simbol-simbol ukiran yang menggambarkan perasaan sedih, bahagia dan perasaan lainnya. Ukiran juga menyimbolkan komunikasi dengan arwah leluhur.



Sumber:

 Catatan:
Ini merupakan ringkasan berdasarkan hasil analisa dan beberapa sumber dari buku dan situs internet. Penulis tidak bertanggungjwab atas isi dalam post ini. Apabila terdapat kontradiksi terhadap isi dan pernyataan yang tidak sesuai, silahkan dikonfirmasi pada bagian komentar, serta kritik dan masukkan yang konstruktif. Terimakasih. 

1 comment:

Your comment is our priority to be better, thanks for the support :)

Komentar Anda adalah prioritas utama kami untuk menjadi lebih baik, terimakasih atas partisipasinya :)